Kemiskinan terus menjadi masalah fenomenal sepanjang sejarah Indonesia. Kemiskinan telah membuat jutaan anak-anak tidak bisa mengenyam pendidikan yang berkualitas, kesulitan membiayai kesehatan, kurangnya tabungan dan tidak adanya investasi, kurangnya lapangan pekerjaan, dan yang lebih parah, kemiskinan menyebabkan jutaan rakyat memenuhi kebutuhan pangan, sandang dan papan secara terbatas.
Hampir seluruh kota di indonesia mengalami kemiskinan salah satunya adalah Aceh.Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) NAD jumlah penduduk miskin atau penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan di Aceh mencapai 959,7 ribu jiwa atau 23,53 persen dari jumlah penduduk Aceh saat ini.
Kemiskinan di Aceh sedikit meningkat pasca bencana tsunami, dari 28,4% pada 2004 menjadi 32,6% pada 2005.
Kemiskinan di Aceh sedikit meningkat pasca bencana tsunami, dari 28,4% pada 2004 menjadi 32,6% pada 2005.
Kemiskinan di Aceh sebagian besar merupakan fenomena pedesaan, dengan lebih dari 30 persen penduduk di pedesaan hidup di bawah garis kemiskinan. Hal ini lebih besar jika dibandingkan dengan penduduk miskin di wilayah perkotaan yang kurang dari 15%.
Aceh telah mengalami tingkat pertumbuhan ekonomi yang sangat rendah atau bahkan negatif selama hampir tiga dekade terakhir, tertinggal di belakang Indonesia dan Sumatra Utara hampir setiap tahunnya.salah satunya banyak di aceh sekarang pengemis-pengemis dan anak-anak terlantar.
Alasan utama pertumbuhan yang lambat ini adalah konflik yang berlangsung lama yang berdampak buruk pada provinsi,Akibatnya, Aceh memiliki tingkat kemiskinan yang lebih tinggi dibandingkan hampir semua wilayah lain di Indonesia. PDB per kapita yang tinggi di Aceh, pada dasarnya merupakan hasil dari banyaknya cadangan minyak dan gas bumi di pantai timur, namun tidak menghasilkan tingkat kemiskinan yang lebih rendah di Aceh.
Pada umumnya penyebab-penyebab kemiskinan adalah Kurangnya lapangan pekerjaan yang tersedia di aceh,Seperti kita ketahui lapangan pekerjaan yang terdapat di Indonesia tidak seimbang dengan jumlah penduduk begitupun dengan aceh yang dimana lapangan pekerjaan lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah penduduknya. Dengan demikian banyak penduduk di aceh yang tidak memperoleh penghasilan dan itu menyebabkan kemiskinan di aceh.kurangnya lapangan pekerjaan membuat Angka pengangguran di Aceh terus meningkat,Aceh menghadapi angka pengangguran yang sudah cukup mengkhawatirkan, menurut Dinas Sosial dan Tenaga Kerja (Dinsosnaker) Kota Banda Aceh, saat ini tercatat 14.000 orang tanpa pekerjaan. Peningkatan jumlah pengangguran ini sangat signifikan ketika masyarakat lokal maupun asing mulai keluar dari Aceh. Hal ini jelas mengindikasikan kurangnya lapangan pekerjaan di daerah aceh.
Selain kurangnya lapangan pekerjaan penyebab kemiskinan lain adalah Tingkat pendidikan masyarakat yang rendah, masih Banyak masyarakat aceh yang tidak memiliki pendidikan yang di butuhkan oleh perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerja. Dan pada umumya untuk memperoleh pendapatan yang tinggi diperlukan tingkat pendidikan yang tinggi pula atau minimal mempunyai memiliki ketrampilan yang memadai dehingga dapat memperoleh pendapatan yang dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari sehingga kemakmuran penduduk dapat terlaksana dengan baik dan kemiskinan dapat ditanggulangi.
kemiskinan harus segera di tanggulangi agar masyarakat dapat memperoleh layanan pendidikan yang memadai, secara gratis dan cuma-cuma. Pemerintah perlu mengembangkan sistem pendidikan nasional yang berorentasi kepada orang miskin (pendidikan untuk orang miskin). Pendidikan yang
ditawarkan saat ini sangat mahal dan biayanya sulit dijangkau oleh orang-orang miskin. Karenanya, mereka memilih untuk tidak menyekolahkan anak-anak mereka, sebab beban biaya pendidikan yang ada, tidak sebanding dengan kemampuan keuangan mereka. Masyarakat selalu mengatakan bahwa “jangankan untuk menyekolahkan anak-anak, untuk makan sehari-hari saja, susahnya minta ampun.
kemiskinan harus segera di tanggulangi agar masyarakat dapat memperoleh layanan pendidikan yang memadai, secara gratis dan cuma-cuma. Pemerintah perlu mengembangkan sistem pendidikan nasional yang berorentasi kepada orang miskin (pendidikan untuk orang miskin). Pendidikan yang
ditawarkan saat ini sangat mahal dan biayanya sulit dijangkau oleh orang-orang miskin. Karenanya, mereka memilih untuk tidak menyekolahkan anak-anak mereka, sebab beban biaya pendidikan yang ada, tidak sebanding dengan kemampuan keuangan mereka. Masyarakat selalu mengatakan bahwa “jangankan untuk menyekolahkan anak-anak, untuk makan sehari-hari saja, susahnya minta ampun.
Karena sebagian masayarakat aceh bertani maka Pemerintah juga harus memperkenalkan sistem pertanian modern dengan teknologi baru yang memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk menggali sumber-sumber pendapatan yang memadai. Teknologi pertanian diperbanyak dan diberikan secara cuma-cuma kepada petani untuk meningkatkan produktivitas pertanian dan mempermudah pemenuhan kebutuhan hidup mereka.

0 komentar:
Posting Komentar